Minggu, 18 Desember 2011

Nyatakah Inception?

Seminggu yang lalu, persisnya gw lupa hari apa, gw mengalami kekalutan yang sama namun nasib yang berbeda dengan Leonardo D'Caprio di film Inception. Beda nasib karena gw gak punya totem dan mengulangi fenomena yang sama.

Gw tidur telentang. Oke gausah dibayangin karena ini bukan point pentingnya. Tiba-tiba tangan gw kesemutan. Trus gw gerakin pelan-pelan. Gak bergerak! Gw ngerasa otot-otot gw bergerak tapi nyatanya tangan gw gak berpindah dari tempatnya. Gw panik. Gw pernah beberapa kali baca dan denger cerita soal fenomena 'ketindihan', berat untuk bergerak karena seperti ada sesuatu yang 'menindih'. Ngejerit pun gak bisa. Trus gw coba diem aja.

Gak lama kemudian, gw kebangun. Ternyata 'ketindihan' itu mimpi doang. Tangan gw bisa bergerak. Tiba-tiba gw melek. Kok gw bangun lagi? Disini yang bikin gw bingung.

Gw mimpi 3 lapis! Atau 2?

'Ketindihan' itu jelas bagian dari mimpi. Dan ternyata, pada saat kondisi sadar pertama gw, itu mimpi juga. Gw baru bener-bener sadar pas bangun yang terakhir itu. Saat itu baru gw bangun. Jadi kesimpulannya, mimpi gw adalah mimpi tidur. Tidur yang berlapis-lapis

Sabtu, 29 Oktober 2011

Anak-anak kehilangan lagu-lagunya

Masih inget lagu standar masa kecil semacam Balonku, Lihat Kebunku, Bintang Kecil, dan untuk yang level agak berat kayak Bintang Kejora? Bagi anak kecil hingga era 90-an, cuma bocah gele yang gak apal lagu-lagu ini. Bahkan sampe sekarang, saat mandi pun gw masih suka nyanyi pelangi pelangi. Namun mirisnya, popularitas lagu anak-anak di masa sekarang kian tenggelam. Ayo tabokan, bahkan mereka mungkin nggak tau lagu Susan.

Lagu-lagu generasi kecil kini bukan lagi berkisar sekitar ciptaan AT Mahmud dan Bu Kasur. Sudah jarang maestro musik yang mencipta lagu berirama ringan yang isinya memang sangat anak-anak. Lagu anak-anak terakhir (yang gw tau) yang sangat populer hingga kalangan bocah SMP seperti gw saat itu, adalah lagu Tikus Makan Sabun. Kontroversial memang, bagaimana mungkin tikus sebegitu begonya makanin sabun. Si Noni menyanyikannya dengan menggemaskan. Pantat megal megol pake pampers. Gak lama setelah masa kejayaannya, doski raib. Ilang. Entah siapa yang 'menculik' Noni dan Noni Noni lainnya.

Belum lama, sekitar sebulan yang lalu, gw ngaso di sekret sambil denger radio. Entah channel mana, radio itu lagi mengudara di segmen anak-anak. Ada 2 anak yang ditanya-tanya oleh penyiar. Si bocah cowok lebih talkative daripada si bocah cewek.

Mulanya mereka diminta nyanyi lagu Balonku. Oke, aman. Selanjutnya Lihat Kebunku. Sedikit ngaco di bagian warnanya. Tapi overall mereka bisa menyelesaikan lagunya. Giliran disuruh nyanyi lagu anak-anak lagi, mereka menyerah. 2 bocah ini lebih memilih menyanyikan lagu Baby by JeBeh. Lancar sekali sodara sodara, walau nggak fasih.

Lalu si penyiar ini ketawa. Wajar doski ketawa. Lagu semudah Abang Tukang Bakso bahkan sulit diselesaikan oleh anak kecil. Mereka lebih jago melafalkan lirik-lirik JeBeh yang mungkin belum mereka paham betul artinya. Yakin deh. Kecuali mereka kursus di LIA atau EF sejak lahir. Dan belajar ilmu asmara dari mamah papahnya sejak Playgroup.

Dan berikutnya baru gw alamin kemaren siang di kampus. Lagi duduk-duduk imut di pinggir lapangan (sebut saja ngeceng), datanglah si Sulis. Doski ini anak dari bapak Mie Ayam yang jualan di kantin. Cantiiiikkk banget ni bocah.






Iseng, gw nyuruh doski nyanyi apa aja. Gw rekam pake hape, biar Sulis bisa denger ulang rekaman suaranya. Lagu pertama yang melucur tanpa ngadat dari mulutnya adalah Dilema by Cherrybelle. Gw cukup terhenyak. Umur gw hampir 15 tahun diatasnya tapi sama sekali gak apal lirik ini. Sementara doski lancar banget nyanyinya. Tapi gw yakin pasti, Sulis bener-bener gak ngerti arti lagu ini. Gw aja gak ngerti.

Dilanjutkan dengan lagu 7 Icon dan Smash. Rupanya Sulis ini penggemar boy-girlband sejati. Apa memang lagu itu yang terus diputar setiap hari dirumahnya? Doski sahabat dahsyat? Anak inbox? Lalala yeyeye???

Gw penasaran apa Sulis juga tau lagu anak-anak? Akhirnya gw test dengan beberapa lagu
  • Bintang kecil. Nada kacau total!
  • Balonku ada 5. Alhamdulillah lulus
  • Pelangi Pelangi. Nggak hafal! Ini parah
  • Lihat Kebunku. Krik... Doski nggak tau
Setelah itu Sulis menyerah "Kak udahan ah nyanyinya," Tapi gw terus membujuk dengan mengatakan, nyanyi itu bikin seneng. Dan memancingnya untuk menyanyikan lagi lagu yang doski tau.

"Aku mau nyanyi "Hari ini Ku Gembira","

Gw mengernyitkan dahi. Lagu apaan? "Yaudah.."

"Hari ini ku gembira. Melangkah di udara. Pak pos membawa berita dari yang ku damba..."

Hampir gw ngejengkang ke belakang. Kenapa doski bisa tau taunya sama lagu ini???

"Kamu tau lagu itu darimana?"

"Di tivi kak yang nyanyi itu yang cewek,"

Gw nggak tau cewek mana yang doski maksud, sementara Vina Panduwinata sudah terlampau tua untuk dikatakan sebagai 'cewek'.

Jangan heran kenapa anak sekarang banyak dikatakan 'Pendewasaan Dini', orang hiburan berupa lagu dan tayangan yang mereka nikmati setiap hari aja berunsur tahapan Remaja --> Alay --> Dewasa. Belum lagi peran besar teknologi yang membuat mereka makin makinan tersesat jati dirinya. Entah kapan industri hiburan anak-anak mau melek dan bangkit untuk memulihkan kodrat anak-anak yang belum waktunya tau soal Dilema, Playboy, apalagi Surat Cinta.






Senin, 26 September 2011

Ciee bisa sakit...

Aku sedang tidak baik kawan. Bukan.. Aku tidak jahat, sungguh! Maksudku kondisiku sedang tidak baik. Lalu kondisiku yang jahat? Ah, lupakan..

Tadi siang gw terserang gejala-entahlah mungkin penyakit-yang langka. Pas lagi mandi, tepatnya luluran, gw ngerasa mual. Mualnya senaga-naga, tapi gw coba tahan gak sampe muntah. Takut puasanya batal. Puasa? Iye, gw bayar utang.

Gw sedikit kesulitan mendeskripsikan rasanya saat itu. Pandangan menggelap, low, low, low... Buram. Lutut gemetaran. Badan menggigil. Gw gak kuat berdiri, akhirnya jongkok. Malah gw sempet berpikir lambung gw pecah dan akan mati saat itu juga. Mati di kamar mandi? Sedikitpun gak pernah kepikiran sebelumnya. Dalam keadaan telanjang? Sungguh gak kece.

Kebayang headline koran Depok, mungkin Aspirasi juga, "Sesosok mayat IMUT ditemukan tanpa busana di pojokan kamar mandi kosannya dalam posisi jongkok"

Karena gak tahan lagi, gw nyamber anduk dan jalan sempoyongan keluar kamar mandi. Trus duduk di kasur. Masih menggigil.

Akhirnya gw pasang kipas kenceng-kenceng di depan muka. Mungkin gw cuma kurang udara. Karena jiwa narsis yang tetap meraja, gw ambil kaca kecil. Ternyata sodara-sodara, bibir gw membiru. Bukan abis makan jagoan neon atau pake blau loh. Biru natural keunyuan yang membahana gitu.

Setelah ngerasa sedikit mendingan, gw masuk kamar mandi lagi. Ngebilas badan dan keramas. Belom sempet ngebilas rambut, gejala yang sama datang lagi. Oke, sebut saja Ajojing part 2. Deskripsinya nyaris sama dengan Ajojing part 1. Gw tahan-tahan sampe selesai keramas. Trus keluar kamar mandi dan kembali duduk di kasur. Rambut masih licin dan basah. Gak peduli kasur ikut basah juga. Gw tersiksa ngerasa kayak gini!

Gw memberanikan diri lagi masuk kamar mandi, siap untuk Ajojing part 3. Set set set buru-buru gw kelarin semua. Tahan-tahan gejala ajojingnya. Akhirnya mandi pun selesai dan kembali sempoyongan menuju kasur. Duduk cantik lagi. Dan ngaca lagi. Masih membiru bibirnya. Gejala minta diciumkah? eh

Saat itu kepengen nangis. Bukan hanya karena gak kuat dan takut bakal mati beneran, tapi juga karena galau mau ngasitau nyokap apa nggak. Akhirnya gw sms nyokap sampe 3 slide. Slide ya apapun lah itu namanya.

Nggak dibales. Tapi langsung nelpon. Suaranya penuh kecemasan. Gak enak juga bikin khawatir gini tapi ya gimana. Takutnya gak bilang trus keburu mati (Gw sangat serius memikirkan soal mati ini). Trus malah jadi mau nangis denger suara nyokap. Kangen rumah banget :(

Setelah menceria-ceriakan hati lagi, gw berangkat ngampus. Untungnya udah gak begitu berasa efek ajojingnya. Malah udah bisa tereak-tereakan saking serunya ketemu anak-anak. Bayi sehat.. Bayi sehat.. Tapi si ajojing ini muncul lagi waktu naik turun tangga. Langsung dizzy setengah hidup. Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.. Akhirnya buka puasa di pinggir jalan.

Jadi, kalo boleh sotoy gw punya beberapa tersangka penyebab gejala ajojing ini.

Pertama, mungkin karena tekanan darah gw makin turun. Alias anemia gw kambuh

Kedua, mungkin juga karena maag gw kambuh. Karena gw mual terus sepanjang hari ini

Ketiga, mungkin gw terlalu asik ngelulur dalam kamar mandi yang mentok sana sini buat bergerak, dengan ventilasi minim yang memungkinkan udara sulit masuk. Ya, kurang oksigen

Keempat, mungkin ketiganya bisa digabung. Membentuk suatu jogresan yang sempurna

Oh iya, barusan bokap nelpon dan nanyain "Sakit kak?"
Pertanyaan yang sebenernya Ia udah tau jawabannya. Positifnya, bokap khawatir. Negatifnya, gw yang menganggap maksud dari telepon itu negatif. Ah sudahlah. Yang penting pada khawatir. Tapi bukan khawatir dengan cara ini yang gw mau. Bukan hanya di saat gw sakit, lalu semua pada perhatian.

Sekali lagi, ah sudahlah...